PONDOK PESANTREN DARUTTAUHID

Sejarah Singkat

Sejarah Singkat Pondok Pesantren Darut Tauhid Rantau Rasau

Menjaga Warisan Ilmu, Menerangi Jalan Tauhid


Di tengah hamparan tanah subur Provinsi Jambi, tepatnya di Jalan Thamrin SK-14 RT 20 RW 05, Kelurahan Bandar Jaya, Kecamatan Rantau Rasau, berdiri sebuah lembaga pendidikan Islam yang tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu, tetapi juga medan perjuangan ruhani � Pondok Pesantren Darut Tauhid Rantau Rasau. Sebuah pondok yang dibangun di atas fondasi tauhid, keikhlasan, dan warisan ilmu dari para ulama besar Nusantara.


Pondok pesantren ini didirikan dan diasuh oleh seorang alim, mursyid, sekaligus pendidik sejati � Kyai Ahmad Khusain Ar-Robani. Beliau bukan hanya pemimpin spiritual bagi para santri dan jamaahnya, tetapi juga menjadi mata air keilmuan yang mengalir dari pengalaman panjangnya menuntut ilmu di berbagai pesantren besar di Pulau Jawa. Sejak masa muda, Kyai Ahmad Khusain telah menempuh jalan ilmu dan riyadhah, berguru langsung kepada para ulama karismatik seperti Kyai Soleh Ya'qub Jepara, Kyai Kholil Bangkalan, dan Mbah Kyai Pancoran Sumenep, menapaki jejak para wali di tanah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur hingga Madura.


Perjalanan itu kemudian mengantarkannya kembali ke tanah kelahiran � Jambi, pada sekitar tahun 1993. Di sinilah beliau mulai meletakkan batu pertama perjuangannya dengan mendirikan Pondok Pesantren Darul Ulum, sebuah pesantren yang kala itu dikenal dengan kedalaman ilmu agama dan keistimewaan dalam bidang ilmu kebatinan. Santrinya mencapai ratusan, dan aura keilmuan pondok begitu hidup.


Namun, seperti gelombang zaman yang tak pernah diam, pesantren ini sempat mengalami kevakuman antara tahun 2009 hingga 2012, saat tren pendidikan bergeser ke lembaga yang menawarkan jalur formal. Banyak santri memilih tempat lain yang menyatu dengan kurikulum umum. Tapi semangat perjuangan tidak pernah padam.


Pada tahun 2013, titik balik itu datang. Kyai Ahmad Khusain diangkat secara resmi oleh gurunya, Kyai Soleh Ya�qub, menjadi Mursyid Thoriqoh Qodiriyah wa Naqsyabandiyah di kawasan tersebut. Sejak saat itu, gelombang ruhani dan keilmuan kembali bangkit. Jamaah thoriqoh tumbuh pesat, mencapai ribuan orang. Dari gelora semangat para jamaah inilah muncul ide besar: membangkitkan kembali pesantren, tapi dengan wajah baru.


Atas restu dan langsung diberi nama oleh Mbah Soleh Ya�qub, maka lahirlah Pondok Pesantren Darut Tauhid � nama yang sarat makna, agar setiap santri, jamaah, dan pencari ilmu di dalamnya senantiasa menjadikan tauhid sebagai poros kehidupan.


Tak hanya sebagai pusat thoriqoh dan kajian klasik, Ponpes Darut Tauhid kemudian berkembang menjadi pesantren yang adaptif terhadap kebutuhan zaman. Para jamaah berinisiatif membangun pendidikan formal. Maka berdirilah SMP dan SMA IT Darut Tauhid, sebagai jembatan yang menggabungkan keunggulan ilmu agama dengan kurikulum modern.


Kini, lebih dari 250 santri menimba ilmu di pesantren ini, dengan input stabil sekitar 60 santri baru setiap tahunnya. Mereka datang bukan hanya untuk belajar kitab kuning atau membaca wirid thoriqoh, tapi juga untuk membentuk akhlak, memperdalam tauhid, dan menjadi penerus perjuangan Islam di tengah masyarakat.



Penutup

Pondok Pesantren Darut Tauhid Rantau Rasau bukan sekadar tempat belajar. Ia adalah suluh yang menerangi kegelapan zaman, benteng akidah di tengah arus modernitas, dan warisan agung dari mata rantai keilmuan para ulama besar. Dari tanah Jawa hingga ke Rantau Rasau, dari pesantren tradisional hingga ke pendidikan terpadu � Darut Tauhid adalah kisah tentang bagaimana keikhlasan dan perjuangan bisa menumbuhkan cahaya yang tak pernah padam.

© Direktory Papkis. All Rights Reserved. Created by Bidang Papkis Kanwil Kemenag Provinsi Jambi